![]() |
| Teh Ani Berta - Infografis by. Alix Wijaya |
Kalau dipikir-pikir, perjalanan kita di dunia blog ini sudah cukup panjang ya Teh. Saya sendiri mulai merintis blog alixwijaya.com ini sejak tahun 2007, sementara Teh Ani Berta—Founder Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB)— memulai langkah pertamanya di tahun 2009 dengan tulisan berbahasa Inggris konsisten sampai Maret 2012. Sampai akhirnya beralih ke bahasa Indonesia pada Desember 2015
Namun, ada satu hal menarik yang belakangan ini sering menjadi bahan renungan. Di tengah gempuran istilah influencer, content creator, dan berbagai sebutan digital modern lainnya, banyak blogger lama yang mulai meninggalkan blog mereka
Apakah teman-teman juga merasakan hal yang sama?
Semalam (Selasa, 20 Oktober 2026), Teh Ani membagikan sudut pandang yang sangat menohok sekaligus mencerahkan dalam sesi #selasasharing di WAG Komunitas ISB
Menanggalkan Gengsi, Memeluk "Privilege" Bernama Blogger
Mari kita akui jujur, secara angka instan, menjadi blogger saat ini mungkin tidak langsung memberikan gelontoran uang yang masif
Gelar influencer atau digital creator saat ini sudah terlalu general dan pasarnya terlampau padat
Jadi, kenapa harus malu disebut blogger? Justru di saat orang lain hanya bisa berteori tanpa punya rekam jejak tulisan yang jelas, kita memiliki karya nyata di atas domain sendiri.
Fondasi Utama: Jangan Datang dengan "Kantong Kosong"
Banyak pemula mengira bahwa begitu mendaftar blog, mereka akan langsung kebanjiran job atau otomatis diterima di lingkaran profesional mana pun
Personal Presence: Penampilan yang rapi, bersih, dan yang paling penting: menjadi pendengar yang baik
. Seringkali, saat bertemu orang baru, kita terlalu sibuk ingin didengarkan hingga lupa memberi ruang bagi lawan bicara . Padahal, seni komunikasi sejati berakar dari empati . Skills (Kompetensi Dasar): Tanpa disadari, kebiasaan menulis blog selama minimal tiga tahun telah menempa kita dengan segudang harta karun keterampilan
.
Membedah 10 "Harta Karun" Keterampilan Blogger
Berapa banyak dari teman-teman yang merasa hanya sekadar "menulis artikel"? Coba tengok kembali sepuluh keterampilan dasar yang otomatis melekat pada diri seorang blogger berikut ini
Kemampuan menulis yang terstruktur
. Penguasaan diksi dan kosa kata yang kaya
. Keterampilan desain tingkat dasar
. Dasar-dasar penyuntingan video
. Kemampuan menata layout agar rapi
. Public speaking (meskipun terkadang harus dipaksa keadaan, seperti voice over)
. Kemampuan negosiasi
. Administrasi dasar (membuat rate card, invoice, hingga Surat Perjanjian Kerja)
. Kemampuan mengorganisasi orang dan acara
. Pengalaman manajerial dalam berorganisasi dan berkomunitas
.
Dari 10 keterampilan dasar inilah Teh Ani melakukan trial and error hingga mengerucutkannya menjadi 5 pilar spesifik yang bernilai jual tinggi: Content Researcher (pengumpul data), Storyteller (peramu narasi), Publisher (pengelola kanal), SEO Practitioner (pengoptimal mesin pencari), dan Opinion Leader (pembangun kredibilitas)
![]() |
| Ikut Narsis Ah..: Kak Ale dan Cici - Quote Inspiratif |
Etika Berjejaring: Jangan Terlihat "Lagi Butuh Uang"
Bagaimana cara mengonversi keterampilan tersebut menjadi proyek nyata? Kuncinya ada pada cara kita mendekati calon klien atau mitra.
Saat mendatangi sebuah acara atau bertemu relasi baru, lakukan observasi natural tanpa terkesan sedang menginterogasi
Ganti pendekatannya dengan menawarkan solusi. Contoh elegan ala Teh Ani:
"Mas/Mba, saya sudah melihat web dan medsos usahanya, sudah bagus tapi bisa dioptimalisasikan lagi supaya menjangkau pelanggan lebih luas. Saya punya beberapa poin alternatif solusi, jika berkenan, boleh kita set meeting untuk membahasnya."
Satu aturan emas dalam berjejaring: Se-urgent apapun kondisi keuangan kita, jangan pernah perlihatkan gestur sedang butuh uang (BU)
Merawat Hubungan Adalah Kunci Abadi
Cerita sukses Teh Ani dalam menggaet klien besar—mulai dari klinik kesehatan, instansi BUMN seperti Srikandi Danantara, hingga pelatihan bagi Dharma Wanita dan Kementerian—selalu bermuara pada satu hal: Ketulusan merawat hubungan
Banyak orang bersikap manis hanya saat proyek sedang berjalan, lalu menghilang begitu saja ketika kerja sama selesai
Catatan Penutup
Kondisi terdesak sering kali menjadi bahan bakar terbaik bagi potensi diri untuk meledak
Sebagai sesama blogger yang membersamai era transisi digital ini, pesan Teh Ani sangatlah menohok sekaligus membakar semangat: Jika merasa tidak punya apa-apa, minimal buatlah daftar apa saja yang pernah dipelajari, lalu gali pengalamannya, kembangkan jejaringnya, dan ciptakan privilege kita sendiri
Jangan patah semangat, teruslah bergerak, dan banggalah mengenakan titel sebagai seorang Blogger!
Bagaimana dengan teman-teman? Masihkah bisa merasa bangga menggunakan titel Blogger di era sekarang? Yuk, bagikan cerita dan pendapat teman-teman di kolom komentar di bawah ya!



masya Allaah nuhun sudah merangkum ya kang
BalasHapus