Gejala Mata SePeLe Jangan Disepelein, Apalagi Saat Momen yang Dinanti

Posting Komentar
Kak Ale: Pendongeng Pro & Certified Mentor Public Speaking

Ada satu hal yang sering saya katakan kepada peserta pelatihan public speaking: ketika kita sedang tampil di depan orang lain, bukan hanya suara dan kata-kata yang harus dipersiapkan. Tubuh kita juga harus diajak bekerja sama.


Saya adalah Kak Ale, mentor public speaking yang cukup sering mengisi pelatihan, mendampingi anak-anak, guru, maupun orang dewasa untuk belajar berbicara dengan lebih percaya diri. Sebagai seseorang yang telah memiliki Certified BNSP Metodologi Instruktur Public Speaking, saya belajar bahwa keberhasilan sebuah penampilan bukan hanya soal materi yang bagus atau teknik vokal yang tepat. Kondisi tubuh, termasuk mata, ternyata bisa sangat menentukan.

Saya pernah berada dalam sebuah momen yang sudah lama dinantikan, tepatnya kemarin (09 Agustus 26) pada saat mengisi Workshop bareng Komunitas SiniNgaji. Sebuah kesempatan untuk berbicara di depan banyak orang, bertemu peserta, berbagi pengalaman, sekaligus melakukan hal yang memang saya sukai: Mengajar dan Bercerita. Persiapannya sudah dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya. Materi sudah dicek, alur cerita sudah disusun, bahkan beberapa bagian yang ingin saya sampaikan sudah saya bayangkan bagaimana ekspresi dan intonasinya.

Kak Ale dan SiniNgaji

Namun, menjelang hari pelaksanaan, ada satu gangguan kecil yang awalnya saya pikir tidak akan berarti.

Mata terasa sedikit sepet.

Saat itu saya sedang cukup lama menatap laptop untuk memastikan materi presentasi dan beberapa bahan pendukung sudah siap. Setelah itu berpindah ke ponsel untuk mengecek pesan dan koordinasi acara. Karena terlalu fokus, saya tidak terlalu memperhatikan kondisi mata.

Awalnya saya berpikir, “Ah, paling cuma capek.”

Ternyata rasa sepet itu perlahan berubah menjadi perih dan mata terasa lebih cepat lelah. Kalau mau dibuat sederhana, tiga gejala ini bisa kita ingat dengan istilah yang mudah: SEpet, PErih, dan LElah. SePeLe memang terdengar sederhana. Tetapi justru karena terasa sederhana itulah kita sering mengabaikannya.


Padahal, gejala mata kering dapat muncul ketika mata tidak mendapatkan pelumasan yang cukup. Aktivitas yang membuat kita jarang berkedip, seperti terlalu lama membaca atau menatap layar, dapat memicu mata menjadi kering. Kondisi ruangan ber-AC, paparan angin, penggunaan lensa kontak dalam waktu lama, serta penguapan air mata yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pemicu.


Bagi seorang pembicara, gangguan seperti ini mungkin terlihat sepele. Tetapi coba bayangkan sedang berada di atas panggung, sementara mata terasa tidak nyaman. Konsentrasi bisa ikut terganggu. Kita menjadi lebih sering ingin mengedipkan mata, mengusap mata, atau bahkan sesekali memejamkannya.

Dan itulah yang saya rasakan.

Momen yang seharusnya saya nikmati sepenuhnya justru sempat terganggu oleh rasa tidak nyaman di mata. Saya ingin fokus melihat peserta, membaca respons mereka, menangkap ekspresi mereka ketika saya menyampaikan sebuah cerita. Tetapi mata yang terasa kering membuat saya harus beberapa kali mengalihkan perhatian.


Dari situ saya belajar satu hal sederhana: jangan menunggu mata benar-benar mengganggu aktivitas baru kemudian diperhatikan.


Ketika Mata SePeLe Mulai Mengganggu Momen Penting

Sebagai mentor public speaking, saya selalu mengajarkan bahwa komunikasi bukan hanya tentang apa yang kita katakan. Ada kontak mata, ekspresi wajah, gestur, dan kemampuan membaca respons audiens.


Kontak mata adalah bagian penting dalam membangun hubungan dengan peserta. Ketika berbicara, saya ingin melihat apakah mereka masih antusias, apakah ada yang tertawa, apakah ada yang mulai kehilangan fokus, atau apakah cerita yang saya sampaikan berhasil menyentuh mereka.


Karena itu, ketika mata mulai terasa sepet, perih, dan lelah, saya langsung sadar bahwa saya tidak boleh menganggapnya sebagai gangguan kecil yang bisa terus dibiarkan.


Saya mulai memberikan waktu istirahat untuk mata. Tidak terus-menerus melihat layar. Saya juga berusaha lebih sering berkedip dan mengalihkan pandangan dari laptop atau ponsel. Kebiasaan sederhana seperti ini ternyata penting, terutama ketika kita sedang melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi visual dalam waktu lama. Mengatur durasi menatap layar, beristirahat sejenak, dan menjaga kelembapan lingkungan juga dapat membantu mengurangi gejala mata kering.


Saya juga berusaha tidak mengucek mata. Ini kebiasaan yang sering dilakukan secara spontan ketika mata terasa tidak nyaman. Padahal, daripada terus menguceknya, lebih baik mencari tahu penyebab rasa tidak nyaman tersebut dan melakukan penanganan yang sesuai. Gejala mata kering sendiri dapat berupa mata terasa seperti berpasir, sepet, perih, cepat lelah, bahkan pada kondisi tertentu dapat disertai penglihatan buram atau sensitif terhadap cahaya.

Tips Menjaga Mata

Di momen tersebut saya kemudian mengenal dan mencoba INSTO DRY EYES, yang memang ditujukan untuk membantu mengatasi gejala mata kering. Produk ini mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose 3,0 mg dan bekerja memberikan efek pelumas seperti air mata.


Saya tidak ingin menganggap obat tetes mata sebagai pengganti kebiasaan menjaga kesehatan mata. Bagi saya, justru keduanya harus berjalan bersama. Ketika sedang banyak bekerja di depan layar, saya perlu lebih sadar untuk berkedip dan beristirahat. Ketika mata mulai terasa tidak nyaman, saya perlu segera memperhatikannya, bukan malah memaksakan diri.


Informasi lengkap mengenai "INSTO DRY EYES" juga membantu saya memahami bahwa produk untuk mata kering memang berbeda dengan produk tetes mata yang ditujukan untuk kondisi lainnya. Karena itu, memilih produk sesuai kebutuhan menjadi hal yang penting.


Yang juga perlu diperhatikan adalah aturan penggunaannya. Pada informasi produk, Insto Dry Eyes mencantumkan bahwa lensa kontak perlu dilepas saat digunakan dan pemakaian tidak ditujukan secara rutin untuk jangka panjang. Jika keluhan berlanjut, tentu jangan hanya mengandalkan obat tetes mata; pemeriksaan oleh tenaga medis adalah langkah yang lebih tepat.


Buat saya, pengalaman itu memberikan pelajaran yang cukup berharga. Kita sering mempersiapkan hal-hal besar untuk sebuah momen penting. Materi presentasi disiapkan. Pakaian dipilih. Slide diperiksa berkali-kali. Bahkan kalimat pembuka dan penutup dilatih.


Tetapi kadang kita lupa mempersiapkan hal yang paling dekat dengan diri sendiri: tubuh kita.


Padahal, ketika mata terasa nyaman, kita bisa lebih leluasa melihat audiens, berekspresi, membaca situasi, dan menikmati proses berbicara. Sebaliknya, gangguan kecil pada mata bisa membuat fokus kita terpecah.


Sejak saat itu, saya semakin percaya bahwa SePeLe jangan disepelein.


Kalau mata mulai terasa SEpet, PErih, atau LElah, jangan buru-buru mengatakan, “Ah, cuma sedikit.” Dengarkan sinyal tubuh. Istirahatkan mata. Kurangi menatap layar terlalu lama. Ingat untuk berkedip. Jangan mengucek mata sembarangan. Dan jika diperlukan, gunakan produk yang memang sesuai untuk membantu meredakan gejalanya.


Bagi saya yang sehari-hari banyak berbicara dan bertemu orang, mata bukan sekadar alat untuk melihat. Mata membantu saya membangun koneksi dengan orang lain.


Ada peserta yang tersenyum ketika mendengar cerita. Ada anak yang tiba-tiba berani maju ke depan. Ada guru yang mendapatkan inspirasi baru. Ada orang tua yang akhirnya memahami bahwa anaknya sebenarnya punya potensi berbicara yang luar biasa.


Semua momen itu sayang sekali kalau harus terganggu hanya karena kita menganggap remeh rasa sepet, perih, dan lelah pada mata.


Jadi, kalau suatu hari kita sedang mengejar sebuah momen yang sudah lama dinantikan, jangan hanya memastikan materi dan penampilan sudah siap. Pastikan mata kita juga mendapatkan perhatian.


Karena terkadang, sesuatu yang kita sebut “SePeLe” justru bisa menjadi pengganggu momen yang paling berharga.


Dan sekarang, setiap kali mata mulai terasa tidak nyaman setelah terlalu lama bekerja di depan layar, saya teringat kembali pada pengalaman tersebut.

#InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLeJanganSepelein


Untuk informasi mengenai "Mata SEpet, PErih, LElah" dan berbagai informasi seputar gejala mata kering, saya memilih membaca sumber yang kredibel terlebih dahulu. Karena menjaga mata bukan hanya soal mencari solusi ketika sudah terasa tidak nyaman, tetapi juga soal mengenali dan memahami sinyalnya sejak awal. (AW)

Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar