POV Bapak2 Usia 40+ Tanpa Uban: Antara Syukur, Sabar, dan Pola Pikir

Posting Komentar
Kak Ale Pendongeng Nasional
Kak Ale dan Cici (Pendongeng Nasional)

Masuk usia kepala empat, banyak orang mulai akrab dengan satu hal yang tak terelakkan: uban. Sedikit demi sedikit, rambut yang dulunya hitam pekat mulai memudar, seolah menjadi penanda perjalanan hidup yang penuh cerita.

Tapi tidak semua begitu. Ada juga kisah yang berbeda. Kisah yang mungkin terdengar sederhana, tapi penuh makna.

43 Tahun, Tanpa Uban Sepenuhnya

Tahun ini (per Juli 2026), saya, Kak Ale, sudah memasuki usia 43 tahun.

Dan satu hal yang membuat saya tersenyum kecil setiap bercermin adalah:

Belum ada satu helai uban pun, bukan untuk berbangga diri.

Tapi lebih kepada Rasa Syukur yang dalam.

Karena di usia ini, banyak teman sebaya sudah mulai akrab dengan semir rambut, atau minimal menerima uban sebagai bagian dari fase hidup, bahkan teman sebangku di SD dan SMP sudah ada yang full uban rambutnya.

Namun bagi saya, ini seperti “bonus kecil” dari perjalanan hidup.

Bukan Sekadar Genetik, Tapi Cara Hidup

Banyak orang mungkin akan langsung berkata:

“Ah, itu mah faktor genetik.”

Bisa jadi benar. Tapi saya percaya, ada faktor lain yang tak kalah penting:

1. Manajemen Sabar

Hidup memang tidak pernah lepas dari masalah.

Tekanan, pekerjaan, tanggung jawab keluarga, semua datang silih berganti. Tapi bagaimana cara kita merespon itulah yang menentukan. Sabar bukan berarti diam tanpa usaha, tapi mengelola emosi agar tidak meledak menjadi stres berlebihan.

Karena seringkali, stres itulah yang diam-diam “memutihkan” rambut kita.

2. Pola Pikir yang Dijaga

Sebagai pendongeng profesional, saya senantiasa berinteraksi dengan anak-anak. Dunia anak adalah dunia yang penuh tawa, imajinasi, dan energi positif.

Tanpa disadari, ini membentuk pola pikir yang:

  1. Lebih ringan
  2. Lebih bahagia
  3. Lebih jauh dari overthinking

Dan mungkin… ini juga yang menjaga “warna rambut tetap setia”.

3. Hidup dengan Rasa Bahagia

Menghibur anak-anak di sekolah dan TPQ bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah panggilan Jiwa yang menjadi terapi jiwa. Tertawa bersama mereka, melihat mata berbinar saat mendengar cerita, itu semua seperti “vitamin alami” untuk tubuh dan pikiran.

Refleksi dari Teladan yang Agung

Dalam rasa syukur ini, Kak Ale jadi teringat satu hal yang sangat menenangkan. Bahwa Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, hingga usia 63 tahun, hanya memiliki sedikit sekali uban — bahkan disebut sekitar 3 atau beberapa helai saja.

Bukan sekadar soal fisik, tapi ini mengingatkan bahwa: ketenangan hati, kesabaran, dan kedekatan dengan Allah memiliki dampak luar biasa, bahkan hingga ke tubuh kita.

dikutip dari Portal Jember

Bukan Tentang Uban, Tapi Tentang Cara Menjalani Hidup

Pada akhirnya, tulisan ini bukan tentang siapa yang punya uban atau tidak. Karena uban bukan sesuatu yang buruk. Ia adalah tanda pengalaman, kedewasaan, dan perjalanan hidup.

Namun kisah ini ingin menyampaikan satu hal:

Cara kita berpikir, merespon hidup, dan menjaga hati… itu semua punya dampak nyata.

Bukan hanya pada jiwa, tapi juga pada raga.

Penutup: Syukur yang Sederhana

Di usia 43 tahun ini, Kak Ale hanya ingin berkata:

Alhamdulillah.

Bukan karena tidak beruban, tapi karena masih diberi kesempatan untuk:

  • Menghibur
  • Berbagi
  • Menjadi bagian dari dunia anak-anak

Dan menjalani hidup dengan hati yang lebih ringan. Karena mungkin, rahasia awet muda itu bukan di produk mahal… tapi di hati yang damai.

Semoga Bermanfaat.

Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar